Sikap Terhadap Orang berkebutuhan Khusus (cacat)
Memiliki
anak yang sempurna siapa yang tidak mau?, akan tetapi ketika Tuhan memberikan
anak yang tidak sempurna, baik secara fisik dan mental, apa yang bisa kita
lakukan?. Akankah kita memperbaiki bentuknya?, itu mungkin bisa dilakukan tapi
tidak semuanya. Bahkan ketika anak yang terlahir tidak sesuai ada pula orang
yang membunuhnya, menyingkirkannya atau mengasingkanya dari masyarakat.
Anak
berkebutuhan khusus, apapun bentuk dan karakteristiknya. Bukanlah suatu aib
yang harus di sembunyikan. Ia anugerah, bukanlah suatu kehinaan sehingga orang
yang bersangkutan harus mengurusnya dalam kamar tertutup dan tidak terjalin
orang lain. Seperti apapun kondisinya, anak tetap menjadi anugrah terindah yang
diberikan Tuhan kepada manusia. Jika saat ini anda belum bisa merasakannya. Mungkin
waktu akan memberi tahu anda dalam episode lain yang telah digariskan Tuhan.
Kepada
kaum yang berkebutuhan khusus dengan beragam jenisnya, Allah telah menurunkan
panduan berharga tentang bagaimana sikap yang harus kita terapkan ketika
berinteraksi dengan orang berkebutuhan khusus. Teguran Allah kepada nabi
Muhammad saw dalam memperlakukan orang berkebutuhan khusus dibawah ini semoga
menjadi pembelajaran bagi kita semua.
Di
riwayatkan oleh at Tiridzli dari Aisya
Ra. Pada suatu hari Rasulullah saw amat bahagia menerima tamu dari pembesar
Quraisy dan non Quraisy. Diantara mereka terdapat seorang pentolan musyrik
yakni Abu Jahal dan Utbah bin Rabi’ah untuk menayakan mengenai agama yang dibawa
oleh Muhammad Saw. Kemudian diterangkan kepada mereka ikhwal mengenai Islam. Kedua
pihak larut dalam pembicaraan serius namun diliputi kekeluargaan.
Disela-sela
pembicaraan tersebut datanglah seorang sahabat yang tunanetra bernama Ibnu Ummi
Maktum, dengan melambaikan tangan ia berseru penuh harap kepada Rasulullah saw.
Karena
merasa dihiraukan, sahabat tunanetra tadi mendesak kepada nabi sembari
bertanya. “ apakah yang aku ucapkan ini menganggu engkau wahai Rasulullah Saw? Dengan
wajah gusar dan tidak suka beliau kembali melengos. Seraya menjawab “tidak”.
Walaupun
rasululullah menjawab bahwa kedatanganya tidak mengusik pembicaraan itu akan
tetapi sahabat tunanetra itu dapat merasakan bahwa kedatanganya tidak
diharapkan. Ia sangat sedih dan kemudian pergi sembari menangis. Sepanjang perjalanan
ia selalu menangis mertapi nasibnya, padahal tujuannya datang kepada Rasulullah
saw bukan untuk mengemis, dan bukan pula untuk meminta bantuan. Akan tetapi
ingin mendapatkan siraman rohani.
Kejadian
yang memilukan ini mendapat teguran
langsung dari Allah Swt, diturunkanlah
ayat berikut sebagai teguran keras kepada nabi Muhammad Saw yang telah bersikap
acuh kepada seorang tunanetra. Qs. Abasa 1-4
عَبَسَ وَتَوَلَّى
Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,"
نْ جَاءَهُ الأعْمَى
"karena telah datang seorang buta kepadanya.
وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى
Tahukah kamu, barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa)
وْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى
atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?.
Dari
sebagian riwayat dituturkan bahwa peristiwa teguran keras dari Allah tersebut sangat membekas di relung hati
terdalam Rasulullah saw dan mengugah kesadaran beliau. Terbukti, semenjak itu
beliau tidak pernah bermuka masam kepada kaum miskin, beliau tidak pernah
menghiraukan orang yang berkebutuhan khusus
Perlu
kita ketahui bahwa keberadaan kaum berkebutuhan khusus di muka bumi ini tidak
lepas dari scenario Allah, manusia yang lemah ini tiada kuasa dihadapan -Nya.
Firman Allah Qs Al Hajj 5.
ا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ
الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ
مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ
لِنُبَيِّنَ لَكُمْ ۚ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَىٰ
أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا
أَشُدَّكُمْ ۖ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّىٰ وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَىٰ
أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا ۚ
وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ
اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ
Hai manusia, jika
kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah)
sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari
setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal
daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami
jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami
kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan
kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah
kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula)
di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak
mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu
lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di
atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam
tumbuh-tumbuhan yang indah.
Peryataan
yang perlu dicermati adalah kalimat dari penggalan ayat yang bermakna “
dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan tidak sempurna “. Proses penciptaan
manusia itu sesuai kehendak Allah, ada yang memang Ia sempurnaan ada jug yang
tidak.
Nah
untuk itu, setidaknya ada beberapa akhlak yang mesti diperhatikan dalam berinteraksi dengan kaum berkebutuhan
khusus (cacat). Diantaranya adalah.
1.
Menghormati
orang-orang berkebutuhan khusus.
orang berkebutuhan
khusus sama dengan manusia normal lainnya yang juga berhak untuk dihormati. Meraka
seperti manusia normal yang sakit juga ketika dilecehkan. Meski mereka tak
sempurna, mereka masih mempunyai hati nurani, jiwa dan kehormatan yang harus di
jaga.
2.
Menyetarakan
Kaum cacat dengan yang normal.
Rasullullah memberikan
kedudukan yang setara dengan orang normal beliau tidak membeda-bedakan.
3.
Menyediakan
sarana dan prasarana guna mendukung orang berkebutuhan khusus.
4. Memberikan penghargaan atas
prestasinya da kelebihannya.
5. Berilh perhatian dan kasih saying kepada
mereka sehingga keberadaan mereka akan mempunyi arti.
6. Jadiklah mereka sebagai
pembelajaran hidup
Semoga dengan uraian diatas kita dapat mengambil
pembelajaran baru, bagaimana menyikapi orang yang berbeda dengan kita, bagaimana kita bersyukur dengan keadaan
kita dan merasa hina di hadapan Allah swt. Tak jarang mereka yang berkebutuhan
kusus justru sangat dekat dengan Allah dan yang normal berleha-leha menjauhak
diri dari rahmat Allah. Semoga kita termasuk orang yang senantiasa dekat dengan
Allah dan disemogakan dirindukan Surga.
Referensi : Al Quran Nur Karim
:
Salamulloh, Alaika.. Akhlak Hubungan
Horizontal. Yogyakarta. Pustaka Insan Madani. 2008
: Aqila. Anak Cacat Bukan Kiamat.
Jakarta: KATAHATI. 2010.
Sebuah Perjalanan Meraih Mimpi
Penulis Anak Asuhan Yayasan
Kemaslahatan Umat Yogyakarta
Mahasiswa Institut Agama Islam Negri Salatiga Semester 6
Puji Lestari
Komentar
Posting Komentar